CERAMAH TARAWEH

2 NIKMAT YANG DILUPAKAN MANUSIA

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia terpedaya dengan keduanya; nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Dari Abu Barzah Al-Aslamy, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga ditanyajan kepadanya tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan atau tidak, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan dan tentang tubuhnya, untuk perbuatan apa ia habiskan (tenaganya) .” (HR Tirmidzi)

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

Dan Ibnu Umar berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka Janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore…” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

يَقُوْلُ الْحَسَن الْبَصْرِيّ رَضِيَ الله عنه: مَا مِنْ يَوْمٍ يَنْشَقُّ فَجْرُهُ إِلاَّ وَيُنَادِي: يَا ابْنَ آدَمَ، أَنَا خَلْقٌ جَدِيْدٌ، وَعَلَى عَمَلِكَ شَهِيْدٌ، فَتَزَوَّدْ مِنِّي، فَإِنِّي إِذَا مَضَيْتُ لَا أَعُوْدُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Tidak ada suatu hari yang fajar terbit pada hari itu kecuali dia akan berseru:”Wahai anak Adam sesungguhnya aku adalah makhluk baru, aku akan menjadi saksi terhadap amalan-amalanmu, maka berbekalah dariku, karena sesungguhnya apabila aku telah berlau, aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.”

قَالَ ابْنُ الْقَيّم: ضيَاعُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ، لِأَنَّ الْمَوْتَ يَحْجُبُكَ عَنِ النَّاسِ وَضيَاعُ الْوَقْتِ يَحْجُبُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ

Ibnul Qayyim berkata: ”Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada kematian, karena kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akherat.”

KEUTAMAAN MENCARI ILMU

(ILMU SYAR’I)

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

عن مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan atasnya, maka Allah memahamkannya terhadap ilmu agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وَاِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْئٍ حَتَّى اْلحِيْتَانُ فِى اْلبَحْرِ

Dan sesungguhnya orang yang menuntut ilmu dimintakan ampun oleh segala sesuatu, hingga ikan-ikan yang di laut. (HR. Ibnu Abdil Barr)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia (dicatat) fi sabilillah hingga ia pulang.” (HR. At-Tirmidzi)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله ﷺ قَالَ: وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللّهُ لَهُ طَرِيْقاً إِلَى الجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya suatu jalan menuju ke surga. (HR Muslim)

SHALAT BERJAMAAH

 وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ اَلنَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفُ إِلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ اَلصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ingin rasanya aku menyuruh mengumpulkan kayu bakar hingga terkumpul, kemudian aku perintahkan sholat dan diadzankan buatnya, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang itu, lalu aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjama’ah itu dan aku bakar rumah mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ.” فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: ” هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟” قَالَ: “نَعَمْ” قَالَ: “فَأَجِبْ

Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (adzan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR. Al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasllam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya: ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

KEUTAMAAN MEMBACA Al-QUR’AN

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ الله وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29-30).

عَنْ عَبْد الله بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ الله فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan :alif laam miim, satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para Malaikat yang mulia dan senantiasa taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله ﷺ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Dari Abu Umamah Al-Bahily Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bacalah Al-Quran! Karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang mu`min yang membaca Al-Qur`an laksana buah “Al-Utrujah” (semacam jeruk manis) yang rasanya lezat dan harum aromanya, dan perumpamaan orang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah “At-Tamr” (kurma) rasanya lezat dan manis namun tidak ada aromanya, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur`an ibarat “Ar-Raihanah” (sejenis tumbuhan yang harum) semerbak aromanya (wangi) namun pahit rasanya, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah “Al-Handhalah” (nama buah) rasanya pahit dan baunya tidak sedap”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asy`ary Radhiyallahu ‘anhu)

HARTA ADALAH UJIAN

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيم

“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)

Berkenaan dengan itu ayat tersebut, Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Allah akan menguji manusia dengan kesengsaraan dan kebahagiaan, dengan sakit dan sehat, dengan kekayaan dan kefakiran, dengan halal dan haram, dengan petunjuk dan kesesatan. Dengan demikian, tidaklah tepat jika perasaan sedang diuji itu muncul hanya saat datangnya musibah dan kefakiran, karena sebenarnya semua orang dalam setiap keadaan adalah sedang menjalani ujian dari-Nya.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.”(HR. At-Tirmidzy)

مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian, Akan tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang-orang sebelum kalian… Lalu kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah bersaing untuknya. Kemudian (kemewahan) dunia itu akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.”

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“dan apa saja yang kau infaqkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizqi yang sebaik-baiknya.” (Saba: 39)

QANA’AH

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

Hati orang tua itu masih selalu muda dalam dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan. (HR. Al-Bukhari)
Dan dalam riwayat lain dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

يَهْرُمُ ابْنُ آدَمَ وَيَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ وَالأَمَلُ

Usia anak Adam semakin menjadi tua, dan tersisa dua hal (tidak ikut menjadi tua) yaitu: Rakus dan angan-angan (HR. Ahmad)
Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Abu Dzarr berkata:

قَالَ لِي رَسُول اللَّه ﷺ: يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى؟

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya padaku: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?”

قُلْت: نَعَمْ

Aku menjawab: “Ya.”

قَالَ: وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر؟

Beliau bertanya: “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?”

قُلْت: نَعَمْ، يَا رَسُول اللَّه

Aku menjawab: “Betul, Wahai Rasulullah.”

قَالَ: إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Beliau bersabda: “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).

Al-Ghina, Ghinal qalbi (Kekayaan adalah kekayaan hati). Itulah kekayaan yang hakiki. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan:

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

Hendaklah kamu Ridha dengan apa yang Allah bagikan untukmu, maka engkau akan menjadi manusia terkaya. (HR. At-Tirmidzi)

عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ، وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي

Dari Sa`d bin Malik, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir adalah yang khafy (pelan), dan sebaik-baik rezki adalah sesuatu yang mencukupi.” (HR. Ahmad).
Tentang al-faqru, faqrul qalbi (kefakiran adalah fakirnya hati), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ الْفَقْرُ فِي قَلْبِهِ فَلَا يُغْنِهِ مَا كَثُرَ لَهُ فِي الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا يَضُرُّ نَفْسَهُ شُحُّهَا

Dan barangsiapa ada kefakiran di dalam hatinya, maka banyaknya harta di dunia tidak akan ada guna baginya, dan sesungguhnya kekikiran membahayakan jiwanya. (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani)

PINTU-PINTU SYETAN

PINTU-PINTU SYETAN

مداخل الشيطان

1. Al-Jahlu

Al-jahlu merupakan pintu masuk bagi syetan ke dalam diri manusia. Bahkan dari pintu al-jahlu inilah semua pintu-pintu syetan terbuka dan melalui pintu ini pula kekuatan syetan bertambah. Hal itu disebabkan oleh karena orang jahil tidak mengetahui pintu-pintu syetan yang harus dia tutup rapat-rapat, jendela-jendelanya yang harus dia hindari, dan tipu dayanya yang harus dia patahkan.

Orang jahil tidak dapat mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Bahkan bisa saja orang jahil menyangka sedang malakukan kebaikan ketika berbuat maksiat, atau merasa sedang melakukan perbuatan sunnah ketika berbuat bid’ah. Demikianlah kebodohan itu mematikan hati dan membutakan nurani.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالا ◌  الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ◌ (الكهف:١٠٣-١٠٤)

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi: 103-104)

2. Al-Ghadhab

Al-Ghadab atau marah adalah pintu lebar bagi syetan dan tipudayanya yang hebat. Karena syetan dapat mempermainkan orang yang sedang dikuasai marah, seperti anak kecil yang menjadikan bola sebagai alat permainan. Apa yang terjadi pada orang yang sedang marah adalah bukti bahwa memang seperti itulah kenyataannya.

Pengaruh yang tampak secara lahir dari bangkitnya rasa marah pada seseorang adalah ketidakteraturan tubuh dalam gerakan, gemeratan, dan mata yang memerah. Jika saja seorang yang sedang marah bercermin, tentu dia akan menghentikan marahnya karena merasa malu melihat dirinya sendiri. Lebih parah lagi karena pengaruh marah itu juga dapat menyebabkan lisan bergerak mengucapkan kata-kata kotor, sumpah serapah, caci maki, dan sebagainya. Kamudian marah itupun mempengaruhi hati, menanamkan rasa dengki dan membangkitkan kegelisahan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي، قَالَ : لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لَا تَغْضَبْ (رواه البخاريّ)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Berwashiatlah kepadaku.” Beliau menjawab: “Jangan marah.” Dan beliau mengulang-ulang: “Jangan marah.” (HR. Al-Bukhari)

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاريّ)

Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah. (HR. Al-Bukhari)

Karena besarnya pengaruh marah, maka hendaklah orang yang sedang marah segera meredamnya dengan:

a. Dengan beristi’adzah

Sulaiman bin Shurad menceriterakan bahwa ketika dia sedang duduk bersama Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wasallam, ada dua orang yang saling mencaci, hingga seorang di antara keduanya memuncak marahnya dan memerah wajahnya. Maka Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wasallam berkata

إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ ، لَوْ قَالَ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ” (رواه البخاريّ و مسلم)

Sungguh aku mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Mengingat pahala besar bagi orang yang menahan marah.

مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ (رواه ابن ماجة)

Tiada tegukan yang ditelan seorang hamba yang lebih besar pahalanya daripada tegukan kemarahan yang ditahannya semata-mata karena Allah ta’ala (HR. Ibnu Majah).

c. Diam.

إذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ (رواه أحمد)

“Jika kamu marah, maka diamlah.” (HR. Ahmad)

d. Duduk atau berbaring

إذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ (رواه أبو داوود)

Jika seorang di antara kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendakalah ia duduk, jika marahnya hilang (itulah yang dikehendaki). Jika ( marahnya) tidak hilang juga, maka hendaklah dia berbaring”(H.R.Abu-Dawud)

e. Mengingat kemuliaan orang yang berlapang dada dan suka memaafkan.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (رواه البخاريّ)

dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imron: 134)

Namun demikian, bukan berarti bahwa marah adalah sesuatu yang tercela secara mutlak. Karena ada marah yang secara syar’i terpuji.  Sebagaimana Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi yang pemaaf dan penyantun, bila beliau melihat perbuatan yang menyelesihi syari’ah, maka beliaupun marah, memerah wajahnya, dan beliau masih tetap seperti itu hingga perbuatan menyelisihi syari’at itu beliau merubahnya.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ قِرَامٌ فِيهِ صُوَرٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ وَقَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ (رواه البخاريّ)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengunjungiku dan di dalam rumah terdapat kain tipis (tabir) yang bergambar. Maka berubah rona wajah beliau, kemudian beliau mengambil dan mengoyaknya. A’isyah berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,’’Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang- orang yang membuat gambar-gambar ini.’’ (HR. Al-Bukhari)

3. Hubbud-dunya

Syetan telah menghiasi dunia, memperindahnya di dalam hati banyak manusia. Lalu merekapun condong kepada dunia, merasa tenteram di dalamnya, mencengkeram dunia dengan kuku mereka. Untuk urusan dunialah mereka berlomba, karena urusan dunia pula mereka saling membenci dan mendengki, dan dengan demikian maka terlaksanalah langkah iblis:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (الحجر:٣۹)

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Al-Hijr: 39)

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلاَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ ◌ (سبأ:۲٠)

Dan Sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman (Saba’: 20)

عَنْ عَبد الله بن الشّخير قَالَ: أَتَيْتُ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَكُمُ التّكَاثَرُ قَالَ: “يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي. مَالِي (قَالَ) وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟” (رواه مسلم)

Dari Mutharrif dari ayahnya, berkata: Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau sedang membaca (), beliau berkata: “Anak Adam berkata, hartakuhartaku.” Beliau melanjutkan: “Tidaklah kamu wahai anak Adam mempunyai harta kecuali apa yang telah engkau makan dan itupun telah engkau habiskan,  atau apa yang telah engkau kenakan dan itupun telah engkau usangkan, atau apa yang telah engkau sedekahkan dan itupun telah engkau lakukan? (HR. Muslim)

فَوَالله، مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم (رواه البخاري و مسلم)

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah bersaing untuknya, kemudian (kemewahan) dunia itu akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ (رواه مسلم)

“Demi Allah! Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, hendaknya dia melihat, seperti apa jari itu kembali.”(HR. Muslim)

4. Thulul amal

Barmakna panjang angan-angan. Orang yang panjang angan-angannya adalah orang yang menunda-nunda perbuatan, membangun dunia, dan menghancurkan akhiratnya.

لا يَزَالُ قلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًا في اثْنَتَيْنِ: فِي حُبّ الدُّنْيَا وَ طُوْلِ الأمَلِ (رواه البخاري و مسلم)

Hati orang yang telah tua masih tetap muda dalam dua hal: Dalam kecintaannya kepada dunia dan dalam panjang angan-angan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari meriwayatkan perkataan Ali Bin Abi Thalib:

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh (ditinggalkan di belakang), sedangkan akhirat akan mendekat (datang di depan). Masing-masing dunia dan akhirat tesebut memiliki anak-anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda : Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. Al-Bukhari)

5. Al-Hirshu

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.”(HR. At-Tirmidzy)

مَنْ أُشْرِبَ قَلْبُهُ حُبَّ الدُّنْيَا الْتَاطَ مِنْهَا بِثَلَاثٍ شَقَاءٍ لَا يَنْفَدُ عَنَاهُ، وَحِرْصٍ لَا يَبْلُغُ غِنَاهُ، وَأَمَلٍ لَا يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ (رواه الطبراني)

Barangsiapa yang hatinya diresapi dengan cinta (berlebihan) kepada dunia, maka akan melekat padanya 3 perkara: (1) kesengsaraan yang tidak ada habisanya, (2) rakus yang tak berkesudahan, dan (3) angan-angan yang tak ada ujungnya. (HR. Ath-Thabrani)

6. Al-Bukhlu

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاً وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (Al-Baqarah: 268)

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (Ali Imron: 180)

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung (Al-Hasyar: 9)

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخاري و مسلم)

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua malaikat. Lalu salah satunya berkata, “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata, “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya/bakhil.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

عن أبي أُمَامَةَ رضي اللَّهُ عنه قال: قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : يا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ إِن تَبْذُلَ الفَضْلَ خَيرٌ لَكَ وإِن تُمْسِكَهُ شَرٌّ لَكَ وَلا تُلامُ عَلى كَفَافٍ، وَابْدأْ بِمَنْ تَعُولُ ، واليَدُ العُليَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى (رواه مسلم)

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan apa yang melebihi kebutuhanmu, itu lebih baik bagimu, dan jika engkau menahannya, itu buruk bagimu. Engkau tidak akan tercela karena hidup pas-pasan. Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. (HR. Muslim)

لا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ أَتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٌ أَتَاهُ اللَّهُ مَالا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ (رواه البخاري)

Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: Orang yang diberi (ilmu) Al-Qur’an oleh Allah, lalu dia menegakkannya (mengamalkannya ) di waktu malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia menginfakkannya di waktu malam dan siang. (HR. Al-Bukhari)

MEMBACA KETELADANAN IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM

MEMBACA KETELADANAN IBRAHIM

(catatan malam iedul adha)

Hari Raya Idul Adha mengingatkan kepada ketaatan seorang hamba Allah dan nabiNya Ibrahim dan putranya Isma’il ‘Alaihimassalam terhadap perintah Allah. Allah Ta’ala telah memberikan pujian kepada Ibrahim ‘Alaihissalam. Allah berfirman:

 إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ◌ شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ◌ وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ◌ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.  Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An-Nahl: 120-123)

Apa yang difirmankan oleh Allah dalam ayat-ayat tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa Allah memberikan pujian kepada imam dari orang-orang yang berjalan lurus dan orang tua dari para Nabi, yaitu Ibrahim ‘Alaihissalam. Allah merinci sifat-sifat mulia, bahwa Ibrahim adalah:

 1.      Ummah (أُمَّةً)

Umat (أُمَّةً) adalah sekumpulan orang, atau sekelompok yang berkumpul menjadi satu. Tetapi dalam ayat tersebut, Ibrahim secara sendiri, dan dalam kesendiriannya, disebut dengan kata umat (أُمَّةً). Penyebutan Ibrahim sebagai umat (أُمَّةً), adalah karena pada masa itu hanya Ibrahim satu-satunya orang yang bertauhid di antara orang-orang musyrik, di bawah kekuasaan raja yang musyrik, dalam lingkungan masyarakat musyrik, dan di tengah-tangah adat yang penuh dengan syirik.

Nabiyyullah Ibrahim ‘Alaihissalam disebut dengan umat (أُمَّةً), juga karena dialah seorang imam, seorang pemimpin yang dapat ditauladani. Di tengah fitnah yang menimpanya, di bawah tekanan dan acaman penguasa, Ibrahim tetap memegang erat ajaran tauhid yang diyakininya. Maka sempurnalah sifat Ibrahim sebagai umat (أُمَّةً); sebagai orang yang teguh pendirian meski dalam kesendirian, menjadi tauladan, dan mengajarkan kebaikan kepada manusia.

 2.      Qaanitan lillah (قَانِتًا لِلَّهِ)

Setelah Allah menyebutkan Ibrahim adalah umat (أُمَّةً), lalu Allah menegaskan bahwa Ibrahim adalah Qaanitan lillah (قَانِتًا لِلَّهِ), yaitu orang yang tunduk, patuh, dan taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketaatannya telah benar-benar teruji dengan perintah Allah untuk menyembelih putranya Isma’il. Seorang anak (yang saat itu) adalah anak satu-satunya, anak yang lahir dengan harapan dalam do’a-doanya:

 رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (Ash-Shaffat: 100)

Dan Allah mengabulkan permohonan Ibrahim:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (Ash-Shaffat: 101)

Sungguh ujian yang teramat berat bagi seorang bapak yang telah lama mengharapkan hadirnya seorang putra, jika tiba-tiba setelah putra yang diharapkan telah hadir di depannya, telah sanggup membantu orang tuanya, lalu datang perintah dari Allah agar sang bapak menyembelihnya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash-Shaffat: 102)

Demikianlah ujian berat bagi nabiyyullah Ibrahim, dan diapun menyelesaikan ujiannya, mentaati perintah Allah; sami’na wa atha’na (سمعنا و أطعنا). Dan Allah memujinya dalam kisahnya:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ◌ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ◌ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ◌ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاء الْمُبِينُ ◌ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ◌ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ ◌ سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ◌ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ◌ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 103-111)

3.      Haniifa (حَنِيفًا)

Sifat ketiga yang melekat dalam diri Ibrahim adalam Haniifa (حَنِيفًا), yaitu (الْمُجَانِبُ لِلْبَاطِلِ) yang berarti orang yang menjauhkan diri dari kebatilan, atau (الْمُنْحَرِفُ قَصْدًا عَنِ الشِّرْكِ إِلَى التَّوْحِيدِ) yang berarti orang yang menghindarkan diri dari syirik menuju tauhid. Oleh karena itulah, pada akhir ayat Allah menegaskan (وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ) Dan bukanlah dia (Ibrahim) termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Tauhid, inilah inti dakwah semua Nabi dan Rasul. Pokok Ajaran yang mereka sampaikan adalah sama, yaitu agar manusia bertauhid dan menjauhkan diri dari syirik. Nabi Nuh, Idris, Hud, Shaleh, dan seluruh Nabi hingga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyeru kepada tauhid.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.. (An-Nahl: 36)

 4.      Syakiran li an’umihi (شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ)

Dengan sifat-sifat yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa Ibrahim adalah imam yang dapat ditauladani, taat kepada Allah, lurus dan kokoh bertauhid serta menjauhkan diri dari syirik, lalu Allah menyebutkan bahwa Ibrahim adalah Syakiran li an’umihi (شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ), yaitu orang yang selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wata’ala. Telah jelas pula bagi kita bahwa Allah telah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersyukur dan ancaman bagi orang yang mengingkari nikmatNya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Setalah Allah menjelaskan pujianNya tentang Ibrahim, maka pada Ayat berikutnya Allah berfirman kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An-Nahl: 123)

Jika telah jelas perintah Allah seperti dicontohkan dalam surat An-Nahl tentang Ibrahim, maka saatnya kini kita mengevaluasi ketaatan, kekokohan tauhid, dan syukur kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Marilah kita bertanya:

“Apakah kita yang fasih mengucapkan sami’na wa atha’na (سمعنا و أطعنا) adalah orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah?” “Dimanakah kita saat adzan dikumandangkan? Dan kenapa masjid-masjid tampak sepi dari shalat berjama’ah?”

Marilah kita juga bertanya:

“Ketika kemusyrikan dan maksiat dipuja-puja dan kebenaran dicacimaki, kemanakah kita akan memilih jalan kita?” Sungguh telah tampak jelas apa yang disabdakan Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa Islam datang dan dianggap aneh, kemudian akan kembali dianggap aneh.

Lalu, ketika kita bernafas dan Allah tak meminta imbalan dari setiap hembusan nafas kita, tidak pula pada setiap kedipan mata, tidak pada setiap detak jatung kita, serta kita rasakan nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak mungkin kita mampu untuk menghitungnya:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahl: 18)

Kitapun bertanya dengan kalimat yang berulang-ulang, sebanyak 31 kali disebutkan dalam satu surah Ar-Rahman:

“فَبِأَيِّ آلاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ”

(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)