Teks khutbah id fitri 1430 H

MENGHINDARI HUBBUD DUNYA DENGAN SHADAQAH

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pagi ini, fajar 1 Syawwal 1430 H telah datang. Bersama dengan ummat Islam dari segala arah dan penjuru, lisan kita mengucapkan kalimat yang sama “Allahu Akbar”, bibir kita basah dengan dzikir yang sama “Laa ilaaha Illah”, dan mulut kita menggemakan suara yang sama “Walillahil hamdu.”

Fajar yang terbit hari ini adalah fajar yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan sukacita karena pada pagi ini kita adalah orang-orang yang bersih dari dosa. Sebulan perjuangan kita melawan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga pada siang hari, mendirikan qiyamu Ramadhan pada malam hari telah menjadikan kita seperti bayi yang lahir dari rahim seorang ibu, bersih dari salah dan suci dari dosa. “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaaha Illah Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu,” demikianlah kalimat indah itu sejak terbenam matahari sampai pagi ini bergema menghiasi saat kemenangan dari peperangan melawan hawa nafsu selama bulan Ramadhan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Hari ini adalah hari kemenangan yang layak untuk kita sambut dengan sukacita dan pantas untuk kita rayakan. Tetapi segala sukacita yang kita rasakan pada hari ini hendaknya tidak membuat kita lupa pada pelajaran penting yang kita dapatkan dari hikmah berpuasa tentang perihnya rasa lapar dan dahaga.  Jika kita bisa merasakan perihnya lapar dan dahaga sehari saat kita berpuasa, tentunya kita akan menyadari betapa menderitanya orang-orang yang menahan lapar berhari-hari. Kegembiraan kita dalam menyambut kemenangan pada Idul Fitri ini hendaknya juga tidak membuat kita lalai bahwa ketika kita duduk dengan wajah berseri dan berbusana baru, masih ada orang – orang yang –jangankan untuk berpakaian baru-, untuk tersenyum saja mereka tidak sanggup karena perut mereka yang kelaparan. Perlu untuk kita sadari adalah bahwa Idul Fitri 1 Syawwal ini bukanlah ajang untuk adu gengsi atau unjuk status sosial. Idul Fitri bukanlah sekedar arena kontes busana atau lomba menu dan kreasi kuliner.

Meskipun hari ini adalah hari sukacita, tetapi sangat pantas bagi kita untuk menjadikan hari ini sebagai “waqfah” tempat kita berhenti sejenak untuk menolah ke belakang, membaca jejak-jejak kita, mengevaluasi hari-hari yang telah kita lalui sebagai pelajaran untuk langkah-langkah ke depan. Marilah kita mencoba memikirkan tentang kehidupan dunia kita, perbuatan dan tingkah laku kita pada hari-hari yang telah kita lalui, kemudian kita menghitung-hitung dan bertanya kepada diri kita sendiri “sudahkah cukup bekal kita untuk menghadapi hari nanti?” “Dimanakah tempat yang pantas untuk kita saat hanya ada surga dan neraka?”

Ma’asyiural muslimin rahimakumullah

Dunia yang kita huni saat ini hanyalah sementara. Baju baru yang kita pakai -berapapun harganya- tak lama lagi akan menjadi usang, rumah yang kita tempati –betapapun megahnya- juga pasti akan kita tinggalkan, kendaraan yang kita naiki –bagaimanapun mewahnya- juga akhirnya hanya akan menjadi besi tua atau barang rongsokan. Sedangkan apa-apa yang dijanjikan oleh Allah bagi hamba-hambanya yang beriman dan beramal shaleh adalah balasan berupa kenikmatan abadi dan kebahagiaan untuk selama-lamanya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(Q.S. Ali-Imron 14)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kesenangan dunia yang secara tegas disebutkan oleh Allah sebagai kesenangan sementara itu, bagi sebagian orang justru menjadi tujuan hidup. Bagi mereka dunia adalah segala-galanya, harta adalah kiblat tempat mereka memusatkan pandangan, dan tidak jarang kita mendengar kalimat dari lisan hamba-hamba dunia itu “asal ada uang, segalanya pasti beres” “asal sudah kaya pasti bahagia” atau kalimat “waktu adalah uang.” Keadaan seperti itu lebih diperparah lagi dengan adanya orang-orang bodoh yang meletakkan kemuliaan pada tumpukan harta benda. Kejadian nyata dalam sebagian masyarakat telah menjadi bukti bahwa seseorang yang tidak mendirikan shalatpun menjadi terhormat karena kekayaannya, penjudi dihormati karena pundi-pundi uangnya, dan para pelaku maksiatpun dimuliakan hanya karena limpahan hartanya.

Sungguh benar apa yang pernah disabdakan oleh Rasul Shallallhu ‘alaihi wasallah tentang akan adanya orang-orang yang “membangun istana dan lupa kuburnya.” Mereka adalah orang-orang yang tidak menyadari bahwa kemegahan istana mereka di dunia ini akan menjadi sebab sempitnya ruang kubur yang akan mereka huni nanti. Mereka juga tidak menyadari bahwa kejayaan hidup dunia mereka akan menghantarkan mereka memasuki siksa Allah nanti.

Tidak ingatkah mereka pada kejadian yang menimpa Qarun? Seorang yang memiliki kekayaan berlimpah, seorang yang kunci gudang emasnya hanya dapat diangkut dengan seratus kuda, dan seorang yang memiliki pundi-pundi emas tak terhitung banyaknya. Sesungguhnya Allah telah menenggelamkan dia dan seluruh kekayaannya dan Allah akan meletakkanya di neraka karena dia telah menjadi budak harta benda dan melupakan Allah.

Hubbud dunya atau cinta berlebihan kepada dunia itu telah menyebabkan mereka tidak peduli lagi halal haram, telinga orang-orang yang terjangkiti penyakit hubbud dunya itu telah tuli dari penggilan Allah, dunia juga telah membutakan mata mereka untuk melihat mana yang haq dan mana yang batil, dan lisan merekapun telalu berat untuk berdzikir kepada Allah. Bisa jadi jasad mereka sempurna tanpa kurang apa-apa tetapi jiwa mereka kosong dari rasa syukur. Jiwa-jiwa pengabdi dunia itu telah kosong dari rasa syukur kepada Allah yang Maha Pengasih. Jiwa mereka telah tertutup untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan. Mereka punya prinsip “pelit pangkal kaya” “jujur hancur” dan sering tanpa malu mereka bersuara lantang “mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal?”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pagi ini kita mengingatkan diri kita sendiri tentang dunia, kita sadarkan diri kita tentang segala nikmat duniawi bahwa segala yang diberikan oleh Allah kepada kita di dunia hanyalah bersifat sementara dan harta yang kita miliki adalah amanat yang harus manfaatkan untuk menggapai kebahagiaan abadi di sisiNYA.

Sesungguhnya Allah tidak melarang manusia untuk mencari harta benda, tidak pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membatasi jumlah kekayaan yang dapat kita miliki. Berpuluh ayat dan hadits hanyalah mengajarkan agar kita tidak tertipu dengan gemerlap dunia.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qashah 77)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Diantara perbuatan mulia yang dapat menjaga kita dari pengaruh rakus dan sifat hubbud dunya (cinta yang berlebihan kepada dunia) adalah perbuatan memandang orang-orang yang dari sisi ekonomi lebih rendah dari keadaan ekonomi kita.

ُانْظُـُروْا إِلىَ مَنْ هُوَ أَسْفَـلَ مِنْـكُمْ وَلاَ تَنْظُـرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَـكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan harta benda) dan jangan melihat orang yang berada di atasmu (dalam urusan harta benda)” (Muttafaq ‘alaihi)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kemauan untuk melihat orang yang lebih rendah dalam hal ekonomi itu, disamping akan menumbuhkan kesadaran untuk syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah, juga akan memupuk semangat untuk bersedekah dan menghalangi tumbuhnya sifat kikir. Orang-orang yang sadar bahwa harta benda adalah alat untuk beribadah akan memiliki semangat yang tinggi dalam berinfaq dan bersedekah. Merekalah orang-orang mulia yang disebutkan dalam firman Allah :

“orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit” (Q.S. Ali Imron 134)

Semangat orang-orang beriman untuk berinfaq dan bersedekah adalah juga karena dilandasi keyakinan akan janji Allah, bahwa Dia akan memberi balasan berlipat ganda. Semangat itu juga tumbuh karena ancaman Allah kepada orang – orang yang bakhil :

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Taubah 34-35)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pagi 1 Syawwal ini, setelah sebulan kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kita merenung kembali. Badan kita yang sehat, keluarga yang berkumpul, kendaraan yang bagus, harta yang cukup dan makanan yang lezat adalah sebagian nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Semua itu bukanlah untuk kita jadikan alat untuk mengukur kemuliaan, bukan sarana untuk kesombongan. Seberapapun harta yang kita miliki adalah nikmat yang harus kita syukuri. Karena, di tempat lain masih ada orang-orang yang menahan perihnya lapar, ada anak-anak yang menangis karena orang tua mereka telah tiada, ada orang-orang yang menjerit karena rasa sakit yang mereka derita. Nikmat duniawi yang dianugerahkan Allah kepada kita bukanlah pemberian untuk kita miliki selamanya. Ada saatnya nanti _baik sukarela atau terpaksa- kita harus  meninggalkan segala yang kita miliki, berpindah dari rumah yang kita bangun, berpisah dari orang-orang yang kita cintai, dan berpindah ke lahat sempit alam kubur.

Inilah saat kita untuk menyongsong janji Allah :

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S. Al-A’la 17)

تقبل الله منــا ومنكم كل عـام وأنتم بخــير

KISAH QARUN

76. Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. 78. Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. 79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. 80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. 81. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). 82. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)”. 83. Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Qashash 76-83)

Posted on September 28, 2009, in Menulis, Teks Khutbah Idul Fitri 1430 and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Komentar ditutup.