JANJI

Pengakuan seorang laki – laki di depan Umar bin Khattab tentang perbuatannya yang menyebabkan kematian seseorang telah membawanya kepada vonis hukum yang harus dia hadapi. Amirul Mukminin Umar bin Khattab, salah satu Khalifah yang dikenal tegas, menetapkan qishah, hukuman mati.
“Kamu telah mengakui apa yang kamu lakukan. Tidak ada alasan bagiku untuk menetapkan hukuman selain hukuman mati.”
“Sam’an wa tha’atan, aku menerima putusan hukum ini ya Amiral Mukminin, aku ridla diberlakukannya syariah Islam terhadap diriku, tetapi aku meminta waktu untuk menyelesaikan urusanku”
“Urusan apa?”
“Demi Allah, Ayahku telah memberikan kepadaku amanat sebelum dia meninggal dunia.”
“Apa yang diamanatkan kepadamu?”

“Ya Amiral Mukinin, sesungguhnya aku memiliki seorang adik… Ayahku telah berpesan kepadaku sebelum malaikatul maut mencabut ruhnya..”

Sejenak laki – laki itu diam, mengingat kembali pesan sang Ayah, mengatur nafas, menahan tangis. Rasa tanggung jawab sebagai seorang kakak perlahan membangkitkan keberaniannya untuk duduk tegak di hadapan Amirul Mukminin.

“Ya Amiral Mukminin, Ayahku memberikan amanat hartabenda yang harus aku jaga dan aku berikan kepada adikku jika dia telah dewasa. Aku menyimpan hartabenda itu di suatu tempat tersembunyi, hanya aku yang tahu dan dapat mengambil harta itu…”

Hening, sepi… Semuanya diam mendengarkan kata demi kata yang keluar lugas dari lisan laki – laki yang menghadapi hukuman mati. Sopan dan lembut tuturkatanya menunjukkan kebesaran jiwa dan kejujuran.

“Ya Amirul Mukminin… Hari ini telah ditetapkan kepadaku hukuman mati dan aku talah ridla dengan ketetapanmu. Jika kau hukum mati aku sekarang, maka kaulah penyebab saudaraku tidak akan mendapatkan haknya. Aku memohon waktu tiga hari agar aku dapat menyelesaikan urusanku, mencari orang terpercaya untuk menjadi wali dari saudaraku.”
“Bagaimana aku bisa memastikan kamu akan datang kembali untuk menjalani hukuman mati?”
“Semoga engkau ya Amiral Mukminin memenuhi permintaanku dan semoga ada orang yang mau menjamin ucapan dan janjiku.”

Umar memandangi laki – laki di depannya, memperhatikan wajah jujur dan penuh harap. Dia pandangi pula orang – orang di sekitarnya. Hanya ada keheningan… Para sahabat terdiam, dua laki – laki keluarga korban yang bersuara lantang saat melaporkan kejadian pembunuhan hanya membisu menunggu kalimat yang akan terucap dari Amirul Mukminin.

“Siapa di antara kalian yang akan menjamin perkataan laki –laki ini? Siapa di antara kalian yang menjamin laki – laki ini akan kembali setelah urusannya selesai dalam tiga hari?” Pertanyaan Umar memecah keheningan.

Tidak ada jawaban.
Laki – laki di depan Amirul Mukminin itu kemudian memandangi satu persatu orang – orang di sekitarnya. Matanya berhenti menatap kepada satu sosok Abu Dzarr Al – Ghiffari.

“Wahai Anda sahabat yang mulia, aku memohon kepadamu agar menjamin kepergianku selama tiga hari.”

Semua mata menatap ke arah Abu Dzarr. Sosok dengan mata teduh penuh keyakinan itu mendekati Umar bin Khattab, tiada tampak sedikitpun keraguan dari wajahnya.

“Ya Umar, aku menjadi jaminan atas kepergiannya selama tiga hari” ucapnya tegas
“Ya Aba Dzarr, tahukah kamu yang kamu lakukan?”
“Aku sadari apa yang aku katakan.”
“Tahukah kamu, jika terpidana ini tidak datang seseuai janjinya, kamu yang akan menjalani hukuman mati sebagai tanggung jawabmu?”
“Aku tahu itu.”

Tiada kalimat lagi terucap, tiada kata lagi terungkap. Semua yang menyaksikan peristiwa itu hanya terpaku diam. Wajah – wajah dengan rona penuh kecemasan, air mata yang mengalir haru, khawatir, hanya itu…

“Ya Umar, telah ada seorang mulia yang menjamin kepergianku selama tiga hari.”
“Pergilah! Selesaikan semua urusanmu dalam tiga hari.”

Terpidana itu bangkit, berjalan melewati kerumunan orang – orang yang memandangnya dengan wajah kesal, memandangnya dengan mata ancaman. Seolah semua berkata “Awas! Jika tak kamu tepati janjimu.”
***

Matahari telah terbit, meninggi. Hari eksekusi mati telah tiba. Berbondong orang berjalan menuju tempat pelaksanaan qishah, hukuman mati.
Matahari semakin meninggi saat orang – orang mulai saling pandang, bertanya – tanya, berharap, cemas.
Bisik – bisik kekhawatiran mulai terdengar.

“Fulan belum juga datang”
“Jangan – jangan melarikan diri”
“Kita tunggu saja”
“Kalau fulan tidak datang menjalani hukuman hari ini, alangkah malangnya Abu Dzarr”

Dua pemuda keluarga korban yang telah lama ikut menunggu tampak mulai gusar.

“Ya Aba Dzarr…! Kau yang telah memberikan jaminan. Dimana orang yang kau jamin? Mana mungkin orang yang sengaja lari dari hukuman akan datang untuk menerima hukumannya?”

Suara penuh amarah dari laki – laki keluarga korban semakin memanaskan hari yang telah mulai panas.

Abu Dzarr dengan tenang dan dengan penuh wibawa menyunggingkan senyum. Satu senyum yang mampu menyejukkan panasnya sengatan sinar mentari.

“Jika sampai akhir hari ini, orang yang aku jamin kedatangannya untuk menjalani hukuman mati tidak datang, aku pasti akan menepati janjiku dan aku akan menyerahkan jiwaku sebagai pengganti untuk menerima hukuman mati.”
Seketika Umar bin Khattab berkata “Demi Allah, jika yang kau jamin kedatangannya tidak datang pada hari ini, maka aku akan memberlakukan hukum yang telah aku tetapkan pada Abu Dzarr.”

Isak tangis lirih mulai terdengar, puluhan pasang mata tampak berkaca-kaca memandangi seorang Abu Dzarr. Beberapa sahabat Nabi menemui keluarga korban dan menawarkan diyat, denda  sebagai ganti hukuman qishash. Keluarga korban tetap kokoh pada keputusan dilaksanakannya hukum qishash, hukuman mati bagi pelaku pembunuhan.
Waktu berjalan semakin mendekati batas waktu yang ditentukan. Tanah kering tlah basah terguyur tumpahan air mata. Setiap mata menatap hanya pada satu arah, satu sosok  Abu Dzarr. Seorang sahabat Nabi dari kampung Ghiffar. Kecintaan kepada sahabat besar seperti Abu Dzarr, rasa sedih dan khawatir terhadap sesuatu yang akan menimpanya membuat semua orang yang datang pada saat itu tidak lagi memikirkan laki – laki yang sejak pagi ditunggu – tunggu kedatangannya.

“Assalamu’alaikum”

Suara salam.. Suara yang tak asing dalam pendengaran mereka… Yaa… Suara seorang laki – laki yang dinanti. Tiada keraguan dalam suara itu. Suara salam yang teramat indah untuk dilukiskan. Suara salam yang merubah tangis duka menjadi suka, menghapus segala gundah, memberi warna indah.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah”

Wajah lelah bermandi keringat laki – laki yang datang itu tampak laksana satu bintang di antara berjuta bintang. Dia datang di hadapan Amirul Mukminin, di antara para sahabat Nabi yang mulia.

“Ya Amiral Mukminin… Telah aku serahkan urusan saudaraku yang masih kecil kepada paman – pamanku. Aku telah menceritakan kepada mereka tentang keadaanku, tentang apa yang harus aku hadapi. Dan hari ini aku datang memenuhi janjiku untuk menerima hukuman mati.”

Betapa mulianya. Tak ada satupun dari yang menyaksikan peristiwa itu tidak merasa kagum kepada laki – laki yang telah datang untuk menepati janji. Bukan janji biasa, tapi janji untuk menjalani hukuman mati.

Dua laki – laki keluarga korban pembunuhan berjalan menghadap Umar bin Khattab.

“Ya Amiral Mukminin… Kami memaafkan perbuatannya yang telah menyebabkan kematian ayah kami. Kami memaafkannya semata – mata karena mengharap ridhallah ”

*)Terjemahan “al-wafa’ bil ‘ahdi”

Posted on Maret 29, 2011, in Janji. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada JANJI.

Komentar ditutup.