Bicara Cinta

Bicara Cinta                                                 

Aku bertanya kepadamu,

Bukan… bukan kepada orang lain di sampingmu…

Tak perlu kau menoleh kanan menoleh kiri…

Bukan… bukan kepada orang di balakangmu

Tak perlu pula kau menengok ke belakang…

Ya… kepadamu saja aku bertanya,

Tentang cinta…

Aku hanya perlu jawaban “YA” atau “TIDAK”

Pertanyaan pertamaku,

Benarkah orang akan selalu ingat yang ia cintai ?

Kenapa kamu diam?

Jawab pertanyaanku!

Benarkah?

Benarkah kamu mengatakan “YA?”

Syukurlah… aku senang kamu menjawab “YA”

Karena kamu banar – benar merasakan sebagian dari cinta.

Pertanyaan keduaku,

Benarkah orang akan selalu rindu yang ia cintai?

Tidak usah ragu untuk menjawab…

Jawab saja “YA” atau “TIDAK”

Ooh.. kenapa kamu hanya tersenyum…?

Apakah berarti kamu setuju untuk menjawab “YA?”

Baguslah kalau begitu…

Aku hanya berpikir pasti kamu sangat gembira

kala kamu temui yang kau rindu

pasti kala itu kamu ingin berlama – lama bersama yang kamu cinta…

Wow… senyummu malu – malu,

Meski tak kamu katakan “YA”

Tapi senyummu cukup jujur meng”IYA”kan…

Kali ini pertanyaan ketiga,

Benarkah cinta itu membangkitkan semangat?

Maksudku, semangat untuk melakukan sesuatu demi yang dicinta.

Meski harus kehujanan, kepanasan, tetap semangat demi yang dicinta.

Hmmm… aku tidak memintamu menganggukkan kepala,

Tapi tak mengapa, mungkin anggukan kepala juga bahasa cinta,

Bahasa tanpa kata, tanpa bicara…

Jadi… kamu setuju menjawab “YA” kan?

Terimakasih untuk semua jawabanmu

Aku senang,

Karena kamu tak berbohong tentang cinta

Jika kamu sedang mencinta,

Cinta kamu benar – benar cinta…

Jika kamu berkata

“Cinta tanpa sering ingat yang dicinta adalah bohong”

“Cinta tanpa rindu kepada yang dicinta adalah dusta”

“Cinta tanpa semangat berbuat demi yang dicinta adalah palsu”

Aku setuju itu,

Aku berikan dukungan untuk itu..

Senangnya aku berteman denganmu

Berpandangan sama tentang cinta…

Kenapa kamu tersenyum sendiri?

Aku juga ingin tersenyum…

Baiknya kita tersenyum bersama saja…

Senyum kesepakatan tentang rukun cinta yang harus terpenuhi

Sebentar…

Masih ada pertanyaanku untukmu

Pertanyaan yang pasti kamu akan menjawab “YA”

Tanpa sedikitpun ragu

Benarkah kamu cinta Tuhanmu?

Pasti “YA”

Bodohnya aku,

Kenapa mesti aku bertanya

Sedang aku sudah tahu pasti jawabanmu…

Aku ganti saja pertanyaanku…

Jika kamu cinta Tuhanmu,

Benarkah kamu sering mengingatNYA? menyebutNYA?

Kenapa kaget?

Ada apa dengan pertanyaanku?

Apakah aku sampaikan pertanyaan salah?

Baiklah…

Aku ganti lagi pertanyaanku…

Jika kamu cinta Tuhanmu,

Benarkah kamu sering merasakan rindu kepadaNYA?

Kalau kamu mendengar panggilan untuk bertemu denganNYA,

bertemu denganNYA dalam ruku’ dan sujud dalam shalat misalnya,

Sukakah kamu penuhi panggilan itu?

Sukakah kamu berlama – lama menghadapNYA?

Hmmm… kenapa kamu diam lagi?

Masih salahkah pertanyaanku?

Baiklah…

Aku rubah lagi pertanyaanku…

Jika kamu cinta Tuhanmu,

Benarkah semangatmu menyala melakukan sesuatu demi DIA?

Kalau DIA menyuruh kamu bangun saat dinginnya malam,

Adakah semangatmu untuk bangun?

Hmmm…

Ada apa lagi?

Kenapa sekarang kamu tersenyum?

Baiklah…

Aku temani kamu tersenyum…

Tapi…

Kenapa senyum kita sekarang berbeda?

Tidak sama seperti senyum kita tadi…

Saat kita tersenyum untuk kesepakatan tentang cinta,

“Cinta tanpa sering ingat yang dicinta adalah bohong”

“Cinta tanpa rindu kepada yang dicinta adalah dusta”

“Cinta tanpa semangat berbuat demi yang dicinta adalah palsu”

Kesepakatan itukah yang membuat

Senyum kita kini tak seperti senyum kita tadi?

Tetapi kenapa? Bagaimana bisa?

Biarlah senyum ini senyum penuh tanya,

Biarlah pula kita mencari jawabnya…

Posted on Mei 10, 2011, in Bicara Cinta. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Bicara Cinta.

Komentar ditutup.