ABDULLAH BIN KHUDZAFAH AS-SAHMY

ABDULLAH BIN KHUDZAFAH AS-SAHMY

Suatu saat di masa khilafah Umar bin Khattab, Abdullah bin Khudzfah adalah salahsatu dari pasukan Muslimin yang menjadi tawanan kerajaan Romawi. Bersama-sama dengan beberapa tawanan, dia dihadapkan kepada Kaisar. Berbagai bujuk rayu dan ancaman dilontarkan kepada Abdullah agar dia meninggalkan Islam.

“Maukah kamu tinggalkan agamamu dan mengikuti agama Nasrani? Jika kamu mau, maka akan aku berikan separuh kerajaanku.”

“Jika diberikan kepadaku seluruh kerajaanmu, ditambah seluruh kekayaan milik orang Arab, maka aku tidak akan meniggalkan Islam meski hanya sekejap mata.”

“Jika demikian, maka aku akan membunuhmu.” Ancam Kaisar.

Dengan tegas Abdullah berkata: “Terserah padamu, itu urusanmu.”

Begitu kuatnya Abdullah mempertahankan keislamannya, hingga sang Kaisar memerintahkan agar Abdullah bin Khudzafah disalib. Bahkan sang Kaisar juga memanggil pasukan pemanah dan memerintahkan agar mereka mengarahkan anak panah mereka ke arah sekitar tubuh Abdullah.

“Panahlah di sekitar tubuhnya!” Begitu perintah sang Kaisar

Abdullah bin Khudzafah tetap tegar. Harapan Kaisar agar ancaman anak panah itu membuat Abdullah takut dan mengubah pendiriannya ternyata tidak membuahkan hasil. Dia tidak menghiraukan badannya yang disalib, dan tidak mempedulikan hunjaman anak panah yang mengenai tepat di sekitar tubuhnya.

Melihat hal itu, sang Kaisar memerintahkan agar Abdullah bin Khudzafah diturunkan dari tiang salib. Sang Kaisar kemudian memerintahkan pasukannya untuk menyiapkan panci besar dari tembaga. Dia perintahkan pula agar panci besar itu diisi air, lalu diletakkan di atas api hingga tampak air di dalamnya bergolak mendidih.

Sang Kaisar memanggil dua orang diantara pasukan Muslim yang menjadi tawanan. Sang Kaisar menawarkan kepada salahsatu tawanan itu untuk meninggalkan Islam. Ketika tawanan itu menolak ajakan sang Kaisar, maka dilemparkanlah dia ke dalam panci besar penuh air mendidih. Dipertontonkan di depan Abdullah bin Khudzafah pemandangan seorang tawanan yang mengelupas kulitnya, tenggelam dalam panasnya air mendidih. Sebuah pemandangan mengerikan, sekaligus sebagai ancaman sang Kaisar kepada Abddullah bin Khudzafah, bahwa itulah yang akan menimpanya jika dia tetap menolak untuk meninggalkan Islam dan mengikuti agama sang Kaisar.

Pipi Abdullah bin Khudzafah tampak mulai terbasahi air mata. Dia menangis menyaksikan pemandangan di depannya, api yang menyala-nyala, panas air yang mendidih. Tangis yang membuat sang Kaisar merasa yakin bahwa Abdullah bin Khudzafah dirudung rasa takut dan kengerian, tangis yang menurut sang Kaisar adalah bentuk ketundukan Abdullah menghadapi ancamannya.

“Hai Abdullah, maukah kamu meninggalkan Islam dan menjadi Nasrani?”

“Tidak, wahai Kaisar?”

“Lalu apa yang membuatmu menangis?”

“Sesungguhnya aku menangis karena aku hanya memiliki satu nyawa yang akan ikut merasakan panasnya air mendidih itu. Sungguh aku menangis karena aku ingin setiap rambut yang tumbuh di badanku memiliki nyawa yang ikut merasakannya di jalan Allah.”

Allahu Akbar, sungguh jawaban yang muncul dari orang-orang yang “laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun.” Orang-orang yang tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati. Tidak takut menghadapi masa depannya karena telah tampak jelas surga menantinya, dan tidak sedih meninggalkan dunianya karena kefanaan dan penuh tipudaya.

Tidak ada lagi cara bagi sang Kaisar untuk memurtadkan Abdullah dari Islamnya. Bujuk rayu, ancaman, dan siksa tak mampu menggoyahkan kokohnya Iman yang tertanam dalam hatinya. Sang kaisarpun berkata:

“Wahai Abdullah, kalau begitu maukah kamu mencium kepalaku? Jika kamu mau, maka akan aku lepaskan kamu.”

“Apakah dengan begitu semua Muslimin yang jadi tawanan juga akan dibebaskan?” Tanya Abdullah.

“Ya, akan aku bebaskan pula seluruh tawanan dari pasukan Muslim.” Jawab Kaisar.

Abdullah bin Khudzafah bangkit mendekati sang Kaisar, mencium kepalanya. Abdullah bin Khudzafah dibebaskan dari tawanan, dan bersamanya bebas pula seluruh Muslimin yang saat itu menjadi tawanan.

Saat pasukan Muslimin telah kembali, di depan Umar mereka menceritakan apa yang telah terjadi. Khalifah Umar bin Khattab berkata: “Abdullah bin Khudzafah berhak untuk mendapat ciuman di kepalanya dari semua Muslim. Dan aku adalah orang yang akan memulai untuk menciumnya.” Lalu Umarpun mencium kepalanya.

Itulah Abdullah. Dia adalah Abdullah bin Khudzafah bin Qais bin ‘Ady as-Sahmy, satu di antara orang-orang yang pertama-tama masuk Islam.  Dia juga pernah berhijrah ke Habasyah, lalu hijrah ke Madinah.

“Bertanyalah kepadaku sesukamu.” Demikian kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi  Wasallam mempersilahkan para sahabat untuk bertanya.

Ucapan Nabi yang disambut Abdullah dengan pertanyaan: “Ya Rasulallah, siapakah ayahku?”

Beliaupun menjawab: “Ayahmu adalah Khudzafah.”

Pada saat yang lain, Abdullah bin Khudzafah mengeraskan bacaan qur’an. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegurnya: “Wahai putra Khudzafah, jangan perdengarkan bacaanmu kepadaku, perdengarkanlah untuk Allah.

*Abdullah bin Khudzafah, dia meninggal pada masa khilafah Utsman bin Affan.

Posted on April 24, 2012, in Abdullah bin Khudzafah as-Sahmy. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada ABDULLAH BIN KHUDZAFAH AS-SAHMY.

Komentar ditutup.