MENJAGA LISAN

MENJAGA LISAN

Lisan, barangsiapa mampu menjaganya dengan baik, maka akan datang kepadanya banyak kebaikan, dan sebaliknya barangsiapa tidak memeliharanya maka dari lisan itu akan muncul banyak bencana. Betapa pentingnya lisan itu dan betapa dahsyat akibat yang akan terjadi karena lisan hingga Allah Ta’ala memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,” (Al-Ahzab: 70)

Qaulan sadida (قَوْلًا سَدِيدًا) yang berarti perkataan yang benar adalah yang lurus, tidak berbelok, dan tidak ada penyimpangan di dalamnya. Perkataan yang benar yang diperintahkan adalah perkataan benar dalam ukuran syari’ah Islam atau perkataan yang dibenarkan oleh Allah dan RasulNya untuk diucapkan, termasuk dalam hal ini adalah perkataan jujur, karena jujur adalah akhlak orang yang beriman. Dengan menjaga lisan untuk mengucapkan Qoulan sadida inilah Allah akan memberi balasan:

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ  وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” (Al-Ahzab: 71)

Peringatan untuk berkata dengan perkataan yang benar itu menjadi sesuatu yang harus ditegaskan mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

كُلُّ كَلاَمِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لاَ لَهُ, إِلاَّ أَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ أَوْ نَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ ذِكْرُ الله

Setiap pembicaraan manusia membahayakannya, tidak bermanfaat baginya, kecuali yang menyuruh perbuatan ma’ruf atau menahan dari yang mungkar, atau zikir kepada Allah” (HR. at-Tirmidzy)

Dalam hadits yang lain, sesungguhnya Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan pesan tentang lisan. Beliau menyampaikan bahwa bisa jadi gara-gara lisanlah seorang manusia terjerumus ke dalam neraka. Demikianlah kata Nabi yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi ketika beliau ditanya oleh Mu’adz bin Jabal:

يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihukum dikarenakan apa yang kita katakan?”

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”

Beliau juga bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam rangka menjaga lisan pula Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Perlu untuk diingat pula bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang dirahasiakan dan diucapkan oleh manusia, bahwa Allah memiliki Malaikat yang Dia tugaskan untuk mengawasi dan mencatat setiap ucapan manusia.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ  وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ. مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaf : 16-18)

Beberapa hal yang harus dijaga berkenaan dengan menjaga lisan adalah:

1. Berkata Jujur dan Menghindari Dusta

Sebagaimana akhlakul karimah yang lain yang berada pada pertengahan, maka jujur juga demikian. Jujur berada pada pertengahan antara melebih-lebihkan dan mengurangi. Artinya bahwa kejujuran adalah tidak melebih-lebihkan berita dan tidak pula menguranginya. Karena melebih-lebihkan informasi adalah merupakan kebohongan, dan demikian pula sebaliknya. Pas, tidak lebih, dan tidak kurang, itulah kejujuran dalam berkata. Bisa jadi untuk menyampaikan kebenaran perkataan akan terasa pahit, tetapi akan ada akibat lebih pahit jika kejujuran ditinggalkan.

Diantara 7 perintah Allah kepada NabiNya seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzarr:

وَأمَرَنِي أَنْ أَقُوْلَ بِالْحَقّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Dan Tuhanku memerintahkan kepadaku agar aku mengatakan kebenaran meskipun pahit.”

عَنْ عَبْدِ الله بن مَسْعود رَضِي الله عَنْه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلّى الله عَلَيْه وَسَلّم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Hendaklah kamu harus selalu bersifat jujur, maka sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Dan senantiasa seseorang bersifat jujur dan menjaqa kejujuran, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah kebohongan, maka sesungguhnya kebohongan membawa kepada kefasikan, dan sesungguhnya kefasikan membawa ke neraka. Senantiasa seseorang berbohong, dan mencari-cari kebohongan, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.”  (HR. Muslim)

Disamping itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut bahwa kejujuran adalah pangkal dari kebaikan dan menjadi jalan untuk menuju surga, kejujuran adalah pangkal dari munculnya ketenangan dalam hati. Sesungguhnya orang yang jujur telah mendapatkan kemerdekaan yang sesungguhnya, berjalan di muka bumi dengan keberanian menatap segala arah, meskipun mungkin secara fisik tampak terkurung. Sebaliknya orang yang berdusta, sesungghnya dia telah terjajah meskipun secara fisik telah merdeka. Dia terjajah oleh perasaannya sendiri, takut ketahuan, dan menundukkan wajah karena cemasnya.

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رِيْبَةٌ

“Maka sesungguhnya jujur adalah ketenangan dan bohong adalah keraguan.” (HR. at-Tirmidzi)

Berkaitan dengan itu, Imam Asy-Syafi’I berkata:

عَلَيْكَ بِالصّدْقِ حَيْثُ تَرَى أنَّهُ يَضُرُّكَ؛ فَإنَّهُ يَنْفَعُكَ، وَاجْتَنِبِ اْلكَذِبَ حَيْثُ تَرَى أنَّه يَنْفَعُك؛ فَإنَّهُ يَضُرُّكَ

“Hendaklah kamu berkata jujur meskipun kamu mengira kejujuran itu membahayakanmu, karena sesungguhnya kejujuran itu bermanfaat bagimu. Hindarilah kebohongan meskipun kamu mengira bahwa kebohongan itu bermanfaat bagimu, karena sesungguhnya kebohongan itu akan membahayakanmu.”

Kebohongan juga merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, bahkan bahaya kebohongan itu melebih bahaya sifat penakut dan pelit. Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya:

يَارَسُوْلَ اللهِ، أَيَكُوْنُ الْمُؤْمِنُ جَبَّانًا؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقِيْلَ لَهُ أَيَكُوْنُ الْمُؤْمِنُ بَخِيْلاً؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيْلَ لَهُ أَيَكُوْنُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا؟ قَالَ: لاَ

“Ya Rasulullah, apakah orang beriman ada yang penakut?” Beliau menjawab: “Ya.” Maka ada yang bertanya kepada belia: “Apakah orang beriman ada yang bakhil (pelit)” Beliau menjawab: “Ya” Beliau ditanya lagi “Apakah ada orang beriman yang pendusta?” Beliau menjawab: ” Tidak.” (HR. Imam Malik)

Mengingat betapa besarnya bahaya kebohongan itu, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarangnya bahkan meskipun hanya untuk bercanda dan untuk mengundang tawa orang lain.

وَيْلٌ لِلَّذِي يُـحَدِّثُ فَـيَكْذِبُ لِـيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta (dengan tujuan) untuk membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia!” (HR. At-Tirmidzi)

Selain dari itu, tidak asing lagi bagi setiap muslim tentang hadits Nabi yang menyebutkan bahwa dusta adalah salah satu sifat di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh orang munafik.

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ  كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ الّنِفَاقِ حَتَّى يَدَعَهُنَّ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَإِذَاعَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat perkara apabila ada pada diri seseorang, maka ia adalah seorang munafik tulen, dan barang siapa yang ada dalam dirinya salah satunya, maka ia telah memiliki salah satu sifat kemunafikan sampai ia meningalkannya : Apabila diberi kepercayaan ia berkhianat, apabila berbicara ia bohong, apabila berjanji ia melanggarnya, dan apabila berbantahan (bermusuhan ) ia berbuat fasik.” (Muttafaq ‘Alaihi).

2. Menghindari Dhan, Tajassus, dan Ghibah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ  وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا  أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ  وَاتَّقُوا اللَّهَ  إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Al-Hujurat : 12)

Tiga hal lain berkaitan dengan upaya menjaga lisan adalah dhan (الظَّنِّ) atau prasangka, tajassus (التَجَسَّسُ)  atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan ghibah (الْغِيبَة) yang artinya membicarakan sesuatu tentang orang lain (aib) yang tidak disukai olah orang yang dibicarakan.

Dhan (Prasangka/prasangka buruk)

Tidak jarang terjadi sebuah keputusan tindakan diawali dari sebuah prasangka. Prasangka itu sendiri muncul karena keterbatasan pengetahuan atau kurangnya informasi yang benar tentang sesuatu, induvidu, atau kelompok. Karena itulah kemudian muncul prasangka buruk yang seringkali menjadi sebab terjadi permasalahan antar individu, individu dengan kolompok, atau kelompok dengan kelompok, seperti mencaci, menghujat, memaki, dan lain sebagainya, karena prasangka memang dapat menjadi motivator terjadinya ledakan sosial. Maka Allah memerintahkan kepada setiap mukmin untuk menghindari purbasangka dengan firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (Al-Hujurat: 12)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengingatkan tentang hal itu dalam sabdanya:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنّ فَإِنَّ الظَّنّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mengingat bahaya yang akan timbul dari adanya prasangka buruk itu, maka tidak layak bagi orang beriman untuk berprasangka kepada saudaranya selain prasangka baik. Tentang hal itu, Abdullah bin Umar menceritakan:

رَأَيْت النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَطُوف بِالْكَعْبَةِ وَيَقُول “مَا أَطْيَبَك وَأَطْيَبَ رِيحَك مَا أَعْظَمَك وَأَعْظَمَ حُرْمَتك وَاَلَّذِي نَفْس مُحَمَّد بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِن أَعْظَمُ عِنْد اللَّه تَعَالَى حُرْمَة مِنْك مَاله وَدَمه وَأَنْ يَظُنّ بِهِ إِلَّا خَيْرًا

Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam thawaf di Ka’bah seraya berkata “Betapa indahnya dirimu, betapa harum baumu, betapa agung dirimu, dan betapa agung pula kerhormatanmu. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh kehormatan seorang mukmin, darah dan hartanya lebih agung di sisi Allah Ta’ala dari kehormatanmu (Ka’bah). Dan tidaklah mukmin itu berprasangka kecuali prasangka baik.(HR. Ibnu Maja)

Mencari kesalahan orang lain

Satu kalimat yang sangat sering didengang-dengungkan adalah “Semut di seberang lautan tampak sedangkan gajah di pelupuk mata tidak tampak.” Kalimat itu sangat pas kiranya untuk menjabarkan pengertian kalimat mancari kesalahan orang lain. Demikianlah adanya, dan demikianlah yang banyak terjadi. Sebabnya sangat jelas pula, yaitu karena seseorang memang lebih mudah melihat kesalahan yang tampak pada orang lain, lebih tertarik pula untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Perbuatan ini yang dilarang oleh Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

وَلَا تَجَسَّسُوا

“dan janganlah mencari-cari keburukan orang” (Al-Hujurat: 12)

إِيَّاكُمْ وَالظَّنّ فَإِنَّ الظَّنّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَاد اللَّه إِخْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

إِنَّك إِنْ اِتَّبَعْت عَوْرَات النَّاس أَفْسَدْتهمْ أَوْ كِدْت أَنْ تُفْسِدهُمْ

“Sesungguhnya apabila engkau mencari-cari aib orang lain, maka engkau telah atau hampir merusak mereka” (HR. Abu Daud)

Menggunjing

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (Al-Hujurat: 12)

Serupa dengan perbuatan tajassus, menggunjing atau membicarakan kejelekan dan aib orang lain memang bisa jadi lebih mudah, bahkan lebih menarik. Perbedaanya adalah, jika tajassus adalah perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain, maka ghibah atau menggunjing tidak lagi diperlukan untuk mencari-cari, karena dalam pembicaraan dalam menggunjing adalah pembicaraan tentang fakta perbuatan aib yang dilakukan oleh orang lain.

Perbuatan menggunjing bukan perbuatan dusta, karena yang apa yang dibicarakan tentang orang lain adalah benar-benar terjadi, benar-benar dilakukan oleh orang yang dibicarakan. Mungkin sering terdengar orang berkata: “Ini bukan ghibah lho, ini kenyataan.” Kalimat seperti itu mungkin karena kurangnya pemahaman tentang arti ghibah. Karena berbicara tentang kenyataan (aib) yang dilakukan orang lain itulah yang namanya ghibah yang terlarang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ : قِيلَ يَا رَسُول اللَّه مَا الْغِيبَة ؟ قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “ذِكْرُك أَخَاك بِمَا يَكْرَه” قِيلَ أَفَرَأَيْت إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُول ؟ قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُول فَقَدْ اِغْتَبْته وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُول فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah, dia bekata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang “apakah ghibah?” Beliau berkata ““Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Beliau ditanya “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim)

Akibat dari ghibah sangat besar dan membahayakan bagi pelakunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tegas-tegas mengatakan:

عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللَّه عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسْبُك مِنْ صَفِيَّة كَذَا وَكَذَا قَالَ غَيْر مُسَدَّد تَعْنِي قَصِيرَة فَقَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” لَقَدْ قُلْت كَلِمَة لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْر لَمَزَجَتْهُ

‘Aisyah berkata : Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “Cukuplah bagimu Shafiyyah itu begini dan begini..” Maksud ‘Aisyah adalah bahwa Shafiyyah itu seorang wanita yang pendek. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata “Sungguh engkau telah mengucapkan kata – kata (buruk), seandainya (kata-kata buruk itu) dicampurkan ke laut, maka akan tercampur semuanya (menjadi busuk).” (HR. Abu Daud).

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْت بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَار مِنْ نُحَاس يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورهمْ قُلْت مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيل ؟ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُوم النَّاس وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضهمْ

“Ketika aku diangkat (min’raj ke langit), aku melewati suatu kaum yang berkuku tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku berkata “Siapakah mereka ya Jibril?” Jibril menjawab “Mereka adalah orang-orang yang memakan suka daging manusia (menggunjing) dan menodai kehormatan mereka. (HR. Abu Daud)

عَنْ جَابِر بْن عَبْد اللَّه رَضِيَ اللَّه عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيّ اللَّه فَارْتَفَعَتْ رِيح جِيفَة مُنْتِنَة فَقَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ الرِّيح ؟ هَذِهِ رِيح الَّذِينَ يَغْتَابُونَ النَّاس

Dari Jabirbin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata : Kami sedang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tiba-tiba tercium bau bangkai busuk yang menyengat. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Tahukah kamu bau apa ini? Ini adalah bau orang-orang yang menggunjing manusia.” (HR. Ahmad)

3. Berhati-hati terhadap Qiila wa Qaala

Qiila wa qaala (قِيْلَ وَقَالَ) artinya katanya dan katanya. Ungkapan ini adalah untuk menyatakan perbuatan yang dilakukan tanpa dasar yang benar, berbicara menyatakan pendapat, menyampaikan informasi,  atau menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan katanya dan katanya yang belum tentu kebenarannya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam melarang hal itu dengan sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim)

Mengingat betapa lidah yang tak bertulang itu memiliki potensi besar dalam membuat manusia menempati tempat tertinggi atau sebaliknya menghantarkan manusia ke tempat terendah, maka satu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjadi sangat penting dan selalu penting untuk dijadikan pegangan adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, bahwa dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (HR. AT-Tirmidzi)

Posted on Mei 6, 2012, in Menjaga Lisan. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada MENJAGA LISAN.

Komentar ditutup.