Catatan Muharram

CATATAN MUHARRAM

Sesungguhnya Allah telah mengkisahkan banyak kisah tentang para Nabi dan pengikut mereka, tentang perjuangan dan kemenangan yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka. Allah Ta’ala juga menceritakan tentang para kafir, para musyrik, para musuh yang menentang para Nabi, tentang kebinasaan dan kehancuran mereka. Dan Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُولِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf: 111)

Marilah kita telaah sjenak diantara kisah-kisah dalam firman Allah. Kisah tentang Nabi Musa dan pengikutnya, keberhasilan yang dianugerahkan kepada mereka, dan tentang fir’aun serta balatentaranya yang binasa. Dalam kisah panjang yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah menunjukkan kepada kita bahwa pertolongan Allah selalu diberikan kepada orang-orang yang tunduk kepadaNya. Kisah itu juga menjadi dasar bahwa al-haq pasti akan menang melawan kebatilan, meskipun kebatilan itu diperkuat oleh jumlah yang besar, tentara yang hebat, dan dana yang tidak sedikit, karena sesungguhnya kebatilan berdiri di atas pondasi yang rusak dan lemah, sedangkan al-haq berdiri tegak di atas dasar yang baik lagi kokoh.

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim. (At-Taubah: 109)

Sesungguhnya Fir’aun, dengan segala kekuatan yang dimilikinya, sangat mengkhawatirkan munculnya kebenaran yang datang dari orang-orang yang melawannya, yaitu orang-orang Bani Isra’il. Karena kekhawatiran itulah maka Fir’aun berusaha untuk melemahkan orang-orang yang dikhawatirkan akan mengancam kekuasaannya. Dia memerintahkan balatentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki, dan membiarkan anak-anak perempuan.

Akan tetapi Allah Ta’ala Maha Berkehendak dan Maha Kuasa untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki. Allah menyelamatkan kelahiran Musa, memberikan kehidupan, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa justru di tengah-tengah keluarga kerajaan Fir’aun. Hingga suatu saat Musa memukul jatuh seorang pemuda dari kaum Fir’aun, yang mengakibatkan terbunuhnya pemuda itu, Musa berpindah ke Madyan, menetap beberapa tahun dan menikah di sana.

Ketika Musa melakukan perjalanan kembali ke tanah Mesir, Allah memberikan kepadanya risalah kenabian. Allah menganugerahkan kepadanya mukjizat sebagai bukti kenabian dan risalah yang dibawanya. Akan tetapi Fir’aun mengkingkari dan mendustakannya.

فَكَذَّبَ وَعَصَى* ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى* فَحَشَرَ فَنَادَى* فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأَعْلَى

Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. (An-Nazi’at: 21-24)

Bahkan Fir’aun menuduh Musa sebagai seorang penyihir. Dia mengira bahwa mukjizat yang ditunjukkan oleh Musa, tidak lebih dari hanya sebuah sihir yang menipu pandangan manusia. Untuk itulah fir’aun mengumpulkan para ahli sihir untuk menandingi Musa.

فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ *فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ *وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ *قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ *رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ

Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta Alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun”. (Al-A’raf: 118-122)

Ketika permusuhan Fir’aun kepada Musa semakin mejadi-jadi dan segala kekuatan dikerahkan, Allah Ta’ala memerikan pertolonganNya. Yaitu ketika Musa dan kaumnya telah sampai pada tepian laut:

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ *قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu’ara’: 61-62)

Dan seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggalamkan Fir’aun dan balatentaranya.

قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Kaum Musa berkata: “Kami Telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (Al-A’raf: 129)

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ* وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ

Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. (Al-Qashash: 5-6)

Peristiwa yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut terjadi pada bulan yang sama dengan bulan yang mulia ini, yaitu bulan Muharram, yaitu pada ‘asyura’ atau hari kesepuluh bulan Muharram. Itulah hari yang sangat mulia, sehingga Musa ‘Alaihissalam berpuasa pada hari itu sebagai tanda syukurnya atas nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada ‘asyura. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا ؟ قَالُوا : هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah maka baginda telah melihat orang yahudi berpuasa pada hari kesepuluh (Muharram) maka baginda bertanya: Apakah ini?. Maka jawab mereka : Ini merupakan hari yang baik di mana pada hari inilah Allah SWT menyelamatkan bani Israel daripada musuh mereka, maka nabi Musa berpuasa pada hari ini. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Maka aku lebih layak dengan nabi Musa daripada kamu maka beliau berpuasa pada hari ini, dan beliau menyuruh untuk berpuasa (pada hari ‘asyura’).

Kemuliaan bulan Muharram juga disebutkan dalam Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

أَلَا إِنَّ الزَّمَان قَدْ اِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْم خَلَقَ اللَّه السَّمَاوَات وَالْأَرْض ، السَّنَة اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَة حُرُم ، ثَلَاثَة مُتَوَالِيَات : ذُو الْقَعْدَة ، وَذُو الْحِجَّة ، وَالْمُحَرَّم ، وَرَجَب مُضَر الَّذِي بَيْن جُمَادَى وَشَعْبَان

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram. Tiga berurutan: Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram sedangkan Rajab berada antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat faridhoh (shalat wajib yang lima waktu) adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Aku tidak penah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu. (HR. Muslim)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ

Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma beliau berkata, “Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi” (HR. Al-Baihaqi)

Posted on November 17, 2012, in Catatan Muharram. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Catatan Muharram.

Komentar ditutup.