Kisah Sahabat ‘AMRU IBNUL JAMUH

‘AMRU IBNUL JAMUH

Ada bagian yang menggelitik ketika membaca kisah proses masuknya ‘Amru ibnul Jamuh ke dalam Islam. Lelaki berusia 60 tahun itu telah mendengar kedatangan seorang da’i bernama Mus’ab bin Umair di Madinah, yang menyeru penduduk untuk bertauhid, dan meninggalkan segala sembahan selain Allah. Sebagai salah satu pemuka kaum di Madinah, ‘Amru ibnul Jamuh tidak serta merta menerima ajakan dakwah tauhid, meskipun tanpa sepengetahuannya, istri dan tiga orang putranya telah terlebih dahulu menerima dan mengikuti ajaran tauhid dan meninggalkan segala bentuk syirik.

“Hai Hindun istriku, berhati-hatilah dan hindarkan anak-anakmu dari Mush’ab bin Umair yang mendakwahkan ajaran baru.” Begitu ucapnya suatu saat.

“Sam’an wa thaa’atan, Suamiku.” Jawab Hindun. “Tetapi apakah kamu tidak ingin mendengar pendapat anak-anakmu tentang ajaran yang sekarang sedang diikuti oleh sebagaian besar orang-orang Madinah?” Lanjut Hindun.

“Apa katamu?” Dengan suara keras ‘Amru bertanya. “Apakah anak-anakku telah mengikuti ajaran itu tanpa sepengetahuanku?”

“Bukan begitu, Suamiku.” Suara Hindun begetar menyimpan rasa takut. “Maksudku, mungkin saja anakmu pernah menghadiri dan mendengar ajaran itu, atau mungkin dia mengetahui beberapa ajaran yang disampaikan Mus’ab bin Umair.

“Baiklah, panggil putramu ke sini.” Kata ‘Amru menyetujui saran istrinya.

Beberapa saat mereka diam, menunggu kedatangan Mu’adz putra ‘Amru ibnul Jamuh.

“Wahai Mu’adz purtaku, perdengarkan kepadaku apa yang telah kamu dengar dari Mush’ab bin Umair tentang ajaran yang dia sampaikan.”

Sejenak Mu’adz yang telah berada di depan orang tuanya hanya diam. Kemudian dia mulai membaca surat Al-Fatihah “Alhamdulillaahirabbil’alamiin. Arrahmaanirrahiim…” Perlahan Mu’adz membacanya sampai akhir surat.

Sang ayah tertegun kagum “Sungguh betapa indahnya apa yang kamu baca, anakku. Apakah semua yang disampaikan seindah apa yang kamu baca tadi?”

“Bahkan lebih baik lagi, wahai Ayah.” Jawab Mu’adz. “Apakah Ayah akan mengikuti ajaran ini?” Lanjut Mu’adz.

Orang tua itu hanya diam. Lalu dia menjawab “Tidak! Aku tidak akan mengikuti ajaran ini sampai aku dapat jawab dari Manat.”

***

Malam itu, ‘Amru ibnul Jamuh menghadap patung dari kayu yang diberi nama Manat. Kepada patung itulah orang tua itu mengadukan segala penderitaan kala derita menimpa, memohon pertolongan, dan menyembahnya.

Dengan penuh kekhusyu’an dia memohon petunjuk Manat: “Wahai Manat, sesungguhnya engkau mengetahui apa yang sedang aku hadapi. Telah datang ke tempat ini seorang dari Makkah yang mengajarkan ajaran baru dan menghalangiku untuk menyembahmu. Maka aku datang menghadapmu untuk meminta petunjukmu, agar kau berikan isyarat kepadaku, tentang apa yang harus aku lakukan.”

Lama ‘Amru ibnul Jamuh berdoa memohon petunjuk dari Manat, tetapi tak sedikitpun Manat memberikan jawaban, tidak juga ada sedikit isyarat dia berikan.

“Wahai Manat, apakah engkau marah kepadaku?” Kata ‘Amru setelah lama tidak mendapatkan jawaban.

“Baiklah, mungkin engkau sedang marah. Saat ini cukuplah bagiku menghadapmu, beberapa hari lagi aku akan menghadapmu ketika engkau sedang tidak marah.” ‘Amru berkata demikian sambil perlahan dia meninggalkan patung Manat.

***

Pagi hari, tiga putra ‘Amru yang melihat apa yang dilakukan Ayah mereka mulai berbisik-bisik. Otak-otak muda memang sering berinovasi, mengeluarkan ide cemerlang meskipun kadang tampaknya “nakal.” Dalam bisik-bisik mereka dan seorang pemuda lain bernama Mu’adz bin jabal mereka bersepakat untuk “mengerjai” patung Manat pada malam harinya.

Saat malam telah sunyi, mereka melakukan rencana yang telah disusun sejak siang. Mereka mengendap-endap memasuki ruang khusus tempat patung Manat dipuja. Perlahan mereka mengankatnya, membawanya keluar rumah, memasukkannya ke dalam lubang yang dipenuhi kotoran dan sampah. Lalu mereka pulang, tidur lelap, seakan tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Ketika pagi telah datang, seperti biasa ‘Amru ibnul Jamuh hendak beribadah kepada patung Manat. Betapa terkejutnya dia saat melihat ruang tempat patung itu telah kosong, tuhan yang dia sembah telah hilang.

“Celaka!!!” Bentaknya. “Siapa yang dengan beraninya mengganggu tuhan kita?” Pertanyaan dengan suara keras itu dia lontarkan di depan istri dan anak-anaknya. Tetapi tidak ada satupun yang menjawab. Semua hanya diam. Dan orang tua itupun bergegas keluar rumah, mencari-cari, bertanya kesana-kemari, berupaya keras menemukan tuhannya yang hilang.

Matanya memerah, marah, saat dia melihat kepala patung Manat tampak di permukaan lubang tempat pembuangan sampah dan kotoran. Sambil bergumam dan mengumpat, mengecam dan mengancam, dia mengambil patung itu.

“Seandainya aku temukan orang yang melakukan ini, akan aku hukum dia.” Gumamnya.

Dengan penuh ketundukan, orang tua itu membawa kembali patung Manat ke rumahnya. Dengan penuh hormat, dia bersihkan patung itu, dia beri wewangian, dan dia letakkan kembali pada tempat semula. Lalu diapun mulai ritual ibadahnya. Demikianlah hari itu terjadi apa yang telah terjadi.

Ketika malam telah datang, putra-putra ‘Amru ibnul Jamuh mengulangi lagi ulah mereka. Membawa patung Manat ke tempat yang sama seperti malam sebelumnya. Dan ketika pagi telah tiba, kejadian serupa terjadi lagi seperti hari sebelumnya. Begitulah hal itu terjadi lagi hari ini, hari esoknya, dan hari esoknya.

Hingga suatu hari, ‘Amru ibnul Jamuh penyembah patung Manat itu, dalam ke_putus asa_annya berkata: “Wahai Manat tuhanku, telah terjadi padamu apa yang telah terjadi. Maka kini aku berikan kepadamu pedang, agar jika ada yang mengganggumu, kau bisa melawan dan membunuh mereka.” Dia ucapkan itu sambil dia letakkan pedang di hadapan patung Manat.”

Ketika malam telah larut, putra-putra ‘Amru kembali menjalankan aksi mereka. Patung Manat beserta pedangnya mereka bawa keluar, lalu seperti malam-malam sebelummya, mereka lemparkan patung itu di tempat yang sama, lubang penuh kotoran dan sampah. Lebih parah lagi, kali ini patung Manat itu mereka sandingkan dengan anjing yang telah mati.

Saat pagi telah tiba, ‘Amru terkejut karena tuhan Manat yang telah dibekali pedangpun tetap hilang. Dan seperti hari-hari sebelumnya, orang tua itu menemukan patung Manat di lubang yang sama. Manakala dia melihatnya dengan wajah tertelungkuk bersama bangkai anjing, maka saat itulah dia berkata “Demi Allah, jika kamu memang tuhan, tidaklah mungkin kamu akan jatuh di lubang ini bersama bangkai anjing.”

Hari itu ‘Amru ibnul Jamuh bersyahadat, menjadi muslim dengan sebenar-benarnya.

***

Pada perang Uhud, melihat putra-putranya bersemangat ikut jihad di dalamnya, ‘Amru ibnul Jamuh tidak ingin ketinggalan untuk terjun di dalamnya. Akan tetapi dengan usia yang telah tua dan fisiknya yang telah lemah, maka keinginan itu dihalang-halangi oleh putra-putranya.

“Wahai Ayah, engkau telah tua, dan badanmu telah lemah. Sesungguhnya Allah memberikan keringanan kepadamu untuk tidak mengikuti perang ini. Lalu mengapa engkau harus membebani dirimu dengan beban yang berat?”

Mendengar itu, orang tua itu marah. Dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: “Ya Rasulallah, anak-anakku menghalangiku dari kebaikan (perang) ini. Mereka mengatakan karena aku telah tua, jasadku lemah, dan kakiku tak lagi dapat berjalan tegak. Demi Allah, sungguh aku ingin menginjakkan kakiku di surga.”

Mendengar itu Rasulullah menjawab: “Biarkan dia ikut perang ini, semoga Allah memberikan kepadanya rejeki syahid.”

Perang berkecamuk, dalam perang inilah ‘Amru ibnul Jamuh dan putranya gugur sebagai syahid.

***

*) dari Shuwarun min Hayatish-shahabah

Posted on November 18, 2012, in Kisah Sahabat 'AMRU IBNUL JAMUH. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Kisah Sahabat ‘AMRU IBNUL JAMUH.

Komentar ditutup.