MEMBACA AL-QURAN

JANGAN MENJAUH DARI AL-QUR’AN

Allah berfirman:

 وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqon: 30)

Ibnul Qoyyim berkata tentang ayat ini “mengasingkan Al-qur’an bisa terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari tidak suka mendengarkan bacaan Al-qur’an, tidak mempelajari dan tidak berusaha memahaminya, tidak mengamalkannya, meninggalkan hokum-hukum yang ada di dalamnya, dan bentuk-bentuk lain berupa perbuatan-perbuatan yang menjauhkan diri dari Al-Qur’an.”

Apa yang difirmankan oleh Allah tersebut telah menjadi kenyataan pada masa-masa kita sekarang;

  • banyak telinga orang-orang yang mengaku mukmin lebih merasakan ketenangan ketika mendengarkan lagu dan musik,
  • banyak lisan orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah merasa berat untuk membaca Al-Qur’an,
  • banyak mata orang-orang  yang mengaku muslim sejati ternyata terasa lelah untuk memperhatikan Al-Qur’an dan kuat berlama-lama memandang tontonan televise,
  • akhlak generasi ini telah banyak beralih dari akhlaq Al-Qur’an menuju akhlak produk orang-orang yang memusuhi Al-Qur’an

Sesungguhnya, menjauhnya kaum muslimin dari kitab suci Al-Qur’an adalah sebab utama kehancuran, kekalahan, dan kebinasaan. Untuk itulah musuh-musuh Allah berusaha menjauhkan kaum muslimin dari Al-Qur’an dengan segala cara.

  • Gladstone, seorang pemuka berkebangsaan Inggris, di dalam salah satu pidatonya di depan majlis umum berkata: “Selama orang-orang Islam berpegang teguh kepada Al-Qur’an, maka bangsa Eropa tidak akan mampu menguasai mereka…”
  • Dalam sebuah peringatan atas kemenangan Perancis menguasai Aljazair, seorang hakim berkebangsaan Perancis berkata: “Kita tidak mungkin mampu mengalahkan bangsa Aljazair selama mereka membaca Al-Qur’an. Maka kita harus menghilangkan Al-Qur’an dari mereka…”

Setiap mukmin harus menyadari, bahwa Allah memuliakan, menolong, dan memenangkan umat ini dengan Al-Qur’an.

Di antara keutamaan membaca Alqur’an adalah:

1. Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

2. Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif laam miim ( الم ) satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

3. Membaca Al Quran akan mendatangkan kebaikan

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

4.Membaca Al Quran dapat menjadi sebab syafa’at

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

4. Orang yang mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur`an termasuk insan yang terbaik

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkanya” (HR Bukhari)

6. Bacaan Al-Qur`an merupakan “Hilyah” (perhiasan) bagi Ahlul Iman (orang-orang yang beriman).

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang mu`min yang membaca Al-Qur`an laksana buah “Al-Utrujah” (semacam jeruk manis) yang rasanya lezat dan harum aromanya, dan perumpamaan orang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah “At-Tamr” (kurma) rasanya lezat dan manis namun tidak ada aromanya, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur`an ibarat “Ar-Raihanah” (sejenis tumbuhan yang harum) semerbak aromanya (wangi) namun pahit rasanya, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah “Al-Handhalah” (nama buah) rasanya pahit dan baunya tidak sedap”. (HR. Bukhari, Muslim dari Abi Musa Al-Asy`ary Radhiyallahu ‘anhu)

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya (hatinya) tidak ada bacaan Al-Qur`an (yakni tidak memiliki hafalannya) ibarat sebuah rumah yang hendak roboh.” (HR. At-Tirmidzi)

7. Orang yang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, maka kedua orang tuanya akan dihiasi dengan mahkota pada hari kiamat.

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ … فيقولان: بِمَ أُعْطِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِ كُمَا لِلْقرآن

“Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkannya, maka -pada hari kiamat- akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang berkilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari,… maka keduanya berkata: “Mengapa kami diberi mahkota ini? Maka dikatakan: “Karena anakmu mengambil (membaca dan mengamalkannya) Al-Qur`an”. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Hakim)

*)Ringkasan khutbah Jum’at, 30 Nopember 2012,

di masjid Al-Hikmah Genteng.

Posted on Desember 1, 2012, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada MEMBACA AL-QURAN.

Komentar ditutup.