PINTU-PINTU SYETAN

PINTU-PINTU SYETAN

مداخل الشيطان

1. Al-Jahlu

Al-jahlu merupakan pintu masuk bagi syetan ke dalam diri manusia. Bahkan dari pintu al-jahlu inilah semua pintu-pintu syetan terbuka dan melalui pintu ini pula kekuatan syetan bertambah. Hal itu disebabkan oleh karena orang jahil tidak mengetahui pintu-pintu syetan yang harus dia tutup rapat-rapat, jendela-jendelanya yang harus dia hindari, dan tipu dayanya yang harus dia patahkan.

Orang jahil tidak dapat mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Bahkan bisa saja orang jahil menyangka sedang malakukan kebaikan ketika berbuat maksiat, atau merasa sedang melakukan perbuatan sunnah ketika berbuat bid’ah. Demikianlah kebodohan itu mematikan hati dan membutakan nurani.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالا ◌  الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ◌ (الكهف:١٠٣-١٠٤)

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi: 103-104)

2. Al-Ghadhab

Al-Ghadab atau marah adalah pintu lebar bagi syetan dan tipudayanya yang hebat. Karena syetan dapat mempermainkan orang yang sedang dikuasai marah, seperti anak kecil yang menjadikan bola sebagai alat permainan. Apa yang terjadi pada orang yang sedang marah adalah bukti bahwa memang seperti itulah kenyataannya.

Pengaruh yang tampak secara lahir dari bangkitnya rasa marah pada seseorang adalah ketidakteraturan tubuh dalam gerakan, gemeratan, dan mata yang memerah. Jika saja seorang yang sedang marah bercermin, tentu dia akan menghentikan marahnya karena merasa malu melihat dirinya sendiri. Lebih parah lagi karena pengaruh marah itu juga dapat menyebabkan lisan bergerak mengucapkan kata-kata kotor, sumpah serapah, caci maki, dan sebagainya. Kamudian marah itupun mempengaruhi hati, menanamkan rasa dengki dan membangkitkan kegelisahan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي، قَالَ : لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لَا تَغْضَبْ (رواه البخاريّ)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Berwashiatlah kepadaku.” Beliau menjawab: “Jangan marah.” Dan beliau mengulang-ulang: “Jangan marah.” (HR. Al-Bukhari)

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاريّ)

Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah. (HR. Al-Bukhari)

Karena besarnya pengaruh marah, maka hendaklah orang yang sedang marah segera meredamnya dengan:

a. Dengan beristi’adzah

Sulaiman bin Shurad menceriterakan bahwa ketika dia sedang duduk bersama Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wasallam, ada dua orang yang saling mencaci, hingga seorang di antara keduanya memuncak marahnya dan memerah wajahnya. Maka Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wasallam berkata

إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ ، لَوْ قَالَ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ” (رواه البخاريّ و مسلم)

Sungguh aku mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Mengingat pahala besar bagi orang yang menahan marah.

مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ (رواه ابن ماجة)

Tiada tegukan yang ditelan seorang hamba yang lebih besar pahalanya daripada tegukan kemarahan yang ditahannya semata-mata karena Allah ta’ala (HR. Ibnu Majah).

c. Diam.

إذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ (رواه أحمد)

“Jika kamu marah, maka diamlah.” (HR. Ahmad)

d. Duduk atau berbaring

إذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ (رواه أبو داوود)

Jika seorang di antara kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendakalah ia duduk, jika marahnya hilang (itulah yang dikehendaki). Jika ( marahnya) tidak hilang juga, maka hendaklah dia berbaring”(H.R.Abu-Dawud)

e. Mengingat kemuliaan orang yang berlapang dada dan suka memaafkan.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (رواه البخاريّ)

dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imron: 134)

Namun demikian, bukan berarti bahwa marah adalah sesuatu yang tercela secara mutlak. Karena ada marah yang secara syar’i terpuji.  Sebagaimana Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi yang pemaaf dan penyantun, bila beliau melihat perbuatan yang menyelesihi syari’ah, maka beliaupun marah, memerah wajahnya, dan beliau masih tetap seperti itu hingga perbuatan menyelisihi syari’at itu beliau merubahnya.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ قِرَامٌ فِيهِ صُوَرٌ فَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ ثُمَّ تَنَاوَلَ السِّتْرَ فَهَتَكَهُ وَقَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُصَوِّرُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ (رواه البخاريّ)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengunjungiku dan di dalam rumah terdapat kain tipis (tabir) yang bergambar. Maka berubah rona wajah beliau, kemudian beliau mengambil dan mengoyaknya. A’isyah berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,’’Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang- orang yang membuat gambar-gambar ini.’’ (HR. Al-Bukhari)

3. Hubbud-dunya

Syetan telah menghiasi dunia, memperindahnya di dalam hati banyak manusia. Lalu merekapun condong kepada dunia, merasa tenteram di dalamnya, mencengkeram dunia dengan kuku mereka. Untuk urusan dunialah mereka berlomba, karena urusan dunia pula mereka saling membenci dan mendengki, dan dengan demikian maka terlaksanalah langkah iblis:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (الحجر:٣۹)

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Al-Hijr: 39)

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلاَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ ◌ (سبأ:۲٠)

Dan Sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman (Saba’: 20)

عَنْ عَبد الله بن الشّخير قَالَ: أَتَيْتُ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَكُمُ التّكَاثَرُ قَالَ: “يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي. مَالِي (قَالَ) وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟” (رواه مسلم)

Dari Mutharrif dari ayahnya, berkata: Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau sedang membaca (), beliau berkata: “Anak Adam berkata, hartakuhartaku.” Beliau melanjutkan: “Tidaklah kamu wahai anak Adam mempunyai harta kecuali apa yang telah engkau makan dan itupun telah engkau habiskan,  atau apa yang telah engkau kenakan dan itupun telah engkau usangkan, atau apa yang telah engkau sedekahkan dan itupun telah engkau lakukan? (HR. Muslim)

فَوَالله، مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم (رواه البخاري و مسلم)

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah bersaing untuknya, kemudian (kemewahan) dunia itu akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ (رواه مسلم)

“Demi Allah! Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, hendaknya dia melihat, seperti apa jari itu kembali.”(HR. Muslim)

4. Thulul amal

Barmakna panjang angan-angan. Orang yang panjang angan-angannya adalah orang yang menunda-nunda perbuatan, membangun dunia, dan menghancurkan akhiratnya.

لا يَزَالُ قلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًا في اثْنَتَيْنِ: فِي حُبّ الدُّنْيَا وَ طُوْلِ الأمَلِ (رواه البخاري و مسلم)

Hati orang yang telah tua masih tetap muda dalam dua hal: Dalam kecintaannya kepada dunia dan dalam panjang angan-angan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari meriwayatkan perkataan Ali Bin Abi Thalib:

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh (ditinggalkan di belakang), sedangkan akhirat akan mendekat (datang di depan). Masing-masing dunia dan akhirat tesebut memiliki anak-anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda : Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. Al-Bukhari)

5. Al-Hirshu

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.”(HR. At-Tirmidzy)

مَنْ أُشْرِبَ قَلْبُهُ حُبَّ الدُّنْيَا الْتَاطَ مِنْهَا بِثَلَاثٍ شَقَاءٍ لَا يَنْفَدُ عَنَاهُ، وَحِرْصٍ لَا يَبْلُغُ غِنَاهُ، وَأَمَلٍ لَا يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ (رواه الطبراني)

Barangsiapa yang hatinya diresapi dengan cinta (berlebihan) kepada dunia, maka akan melekat padanya 3 perkara: (1) kesengsaraan yang tidak ada habisanya, (2) rakus yang tak berkesudahan, dan (3) angan-angan yang tak ada ujungnya. (HR. Ath-Thabrani)

6. Al-Bukhlu

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاً وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (Al-Baqarah: 268)

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (Ali Imron: 180)

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung (Al-Hasyar: 9)

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخاري و مسلم)

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua malaikat. Lalu salah satunya berkata, “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata, “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya/bakhil.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

عن أبي أُمَامَةَ رضي اللَّهُ عنه قال: قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : يا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ إِن تَبْذُلَ الفَضْلَ خَيرٌ لَكَ وإِن تُمْسِكَهُ شَرٌّ لَكَ وَلا تُلامُ عَلى كَفَافٍ، وَابْدأْ بِمَنْ تَعُولُ ، واليَدُ العُليَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى (رواه مسلم)

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan apa yang melebihi kebutuhanmu, itu lebih baik bagimu, dan jika engkau menahannya, itu buruk bagimu. Engkau tidak akan tercela karena hidup pas-pasan. Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. (HR. Muslim)

لا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ أَتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٌ أَتَاهُ اللَّهُ مَالا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ (رواه البخاري)

Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: Orang yang diberi (ilmu) Al-Qur’an oleh Allah, lalu dia menegakkannya (mengamalkannya ) di waktu malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia menginfakkannya di waktu malam dan siang. (HR. Al-Bukhari)

Posted on Desember 17, 2013, in Pintu Pintu Syetan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada PINTU-PINTU SYETAN.

Komentar ditutup.