CERAMAH TARAWEH

2 NIKMAT YANG DILUPAKAN MANUSIA

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia terpedaya dengan keduanya; nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Dari Abu Barzah Al-Aslamy, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga ditanyajan kepadanya tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan atau tidak, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan dan tentang tubuhnya, untuk perbuatan apa ia habiskan (tenaganya) .” (HR Tirmidzi)

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

Dan Ibnu Umar berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka Janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore…” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

يَقُوْلُ الْحَسَن الْبَصْرِيّ رَضِيَ الله عنه: مَا مِنْ يَوْمٍ يَنْشَقُّ فَجْرُهُ إِلاَّ وَيُنَادِي: يَا ابْنَ آدَمَ، أَنَا خَلْقٌ جَدِيْدٌ، وَعَلَى عَمَلِكَ شَهِيْدٌ، فَتَزَوَّدْ مِنِّي، فَإِنِّي إِذَا مَضَيْتُ لَا أَعُوْدُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Tidak ada suatu hari yang fajar terbit pada hari itu kecuali dia akan berseru:”Wahai anak Adam sesungguhnya aku adalah makhluk baru, aku akan menjadi saksi terhadap amalan-amalanmu, maka berbekalah dariku, karena sesungguhnya apabila aku telah berlau, aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.”

قَالَ ابْنُ الْقَيّم: ضيَاعُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ، لِأَنَّ الْمَوْتَ يَحْجُبُكَ عَنِ النَّاسِ وَضيَاعُ الْوَقْتِ يَحْجُبُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ

Ibnul Qayyim berkata: ”Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada kematian, karena kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akherat.”

KEUTAMAAN MENCARI ILMU

(ILMU SYAR’I)

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

عن مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan atasnya, maka Allah memahamkannya terhadap ilmu agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

وَاِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْئٍ حَتَّى اْلحِيْتَانُ فِى اْلبَحْرِ

Dan sesungguhnya orang yang menuntut ilmu dimintakan ampun oleh segala sesuatu, hingga ikan-ikan yang di laut. (HR. Ibnu Abdil Barr)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia (dicatat) fi sabilillah hingga ia pulang.” (HR. At-Tirmidzi)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ الله ﷺ قَالَ: وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللّهُ لَهُ طَرِيْقاً إِلَى الجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya suatu jalan menuju ke surga. (HR Muslim)

SHALAT BERJAMAAH

 وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ اَلنَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفُ إِلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ اَلصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ingin rasanya aku menyuruh mengumpulkan kayu bakar hingga terkumpul, kemudian aku perintahkan sholat dan diadzankan buatnya, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang itu, lalu aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjama’ah itu dan aku bakar rumah mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ.” فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: ” هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟” قَالَ: “نَعَمْ” قَالَ: “فَأَجِبْ

Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (adzan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR. Al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasllam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya: ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

KEUTAMAAN MEMBACA Al-QUR’AN

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ الله وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29-30).

عَنْ عَبْد الله بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ الله فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan :alif laam miim, satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para Malaikat yang mulia dan senantiasa taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله ﷺ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Dari Abu Umamah Al-Bahily Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bacalah Al-Quran! Karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang mu`min yang membaca Al-Qur`an laksana buah “Al-Utrujah” (semacam jeruk manis) yang rasanya lezat dan harum aromanya, dan perumpamaan orang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah “At-Tamr” (kurma) rasanya lezat dan manis namun tidak ada aromanya, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur`an ibarat “Ar-Raihanah” (sejenis tumbuhan yang harum) semerbak aromanya (wangi) namun pahit rasanya, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah “Al-Handhalah” (nama buah) rasanya pahit dan baunya tidak sedap”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asy`ary Radhiyallahu ‘anhu)

HARTA ADALAH UJIAN

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيم

“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)

Berkenaan dengan itu ayat tersebut, Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Allah akan menguji manusia dengan kesengsaraan dan kebahagiaan, dengan sakit dan sehat, dengan kekayaan dan kefakiran, dengan halal dan haram, dengan petunjuk dan kesesatan. Dengan demikian, tidaklah tepat jika perasaan sedang diuji itu muncul hanya saat datangnya musibah dan kefakiran, karena sebenarnya semua orang dalam setiap keadaan adalah sedang menjalani ujian dari-Nya.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.”(HR. At-Tirmidzy)

مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian, Akan tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang-orang sebelum kalian… Lalu kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah bersaing untuknya. Kemudian (kemewahan) dunia itu akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.”

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“dan apa saja yang kau infaqkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizqi yang sebaik-baiknya.” (Saba: 39)

QANA’AH

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

Hati orang tua itu masih selalu muda dalam dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan. (HR. Al-Bukhari)
Dan dalam riwayat lain dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

يَهْرُمُ ابْنُ آدَمَ وَيَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ وَالأَمَلُ

Usia anak Adam semakin menjadi tua, dan tersisa dua hal (tidak ikut menjadi tua) yaitu: Rakus dan angan-angan (HR. Ahmad)
Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Abu Dzarr berkata:

قَالَ لِي رَسُول اللَّه ﷺ: يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى؟

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya padaku: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?”

قُلْت: نَعَمْ

Aku menjawab: “Ya.”

قَالَ: وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر؟

Beliau bertanya: “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?”

قُلْت: نَعَمْ، يَا رَسُول اللَّه

Aku menjawab: “Betul, Wahai Rasulullah.”

قَالَ: إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Beliau bersabda: “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).

Al-Ghina, Ghinal qalbi (Kekayaan adalah kekayaan hati). Itulah kekayaan yang hakiki. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan:

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

Hendaklah kamu Ridha dengan apa yang Allah bagikan untukmu, maka engkau akan menjadi manusia terkaya. (HR. At-Tirmidzi)

عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ، وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي

Dari Sa`d bin Malik, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir adalah yang khafy (pelan), dan sebaik-baik rezki adalah sesuatu yang mencukupi.” (HR. Ahmad).
Tentang al-faqru, faqrul qalbi (kefakiran adalah fakirnya hati), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ الْفَقْرُ فِي قَلْبِهِ فَلَا يُغْنِهِ مَا كَثُرَ لَهُ فِي الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا يَضُرُّ نَفْسَهُ شُحُّهَا

Dan barangsiapa ada kefakiran di dalam hatinya, maka banyaknya harta di dunia tidak akan ada guna baginya, dan sesungguhnya kekikiran membahayakan jiwanya. (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani)

Posted on Juni 20, 2015, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada CERAMAH TARAWEH.

Komentar ditutup.